Abstrak
Penggunaan obat yang tidak rasional dapat menyebabkan kesalahan dalam pengobatan atau timbulnya
efek samping yang tidak diinginkan. Kebijakan Obat Nasional (KONAS) telah mengembangkan
kebijakan obat umum yang mengikat semua pelaku farmasi di Indonesia agar penggunaan obat dapat
dilakukan secara rasional. Untuk mengembangkan strategi yang efektif dalam mengatasi penggunaan
obat tidak rasional, maka perlu diketahui sejauh mana tingkat masalahnya, salah satunya melalui
Indikator Peresepan yang telah ditetapkan oleh World Health Organization (WHO). Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui pola peresepan obat pada anak usia 2 hingga 5 tahun di 14 Apotek Kota
Bandung periode 2012 melalui indikator peresepan. Data yang digunakan sebanyak 2.195 lembar resep
dari 14 Apotek Kota Bandung diambil secara retrospektif dan diolah berdasarkan indikator peresepan
WHO. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah obat rata-rata dalam setiap lembar resep 3,54 item;
persentase pasien yang menerima obat injeksi 0%; persentase pasien yang menerima antibiotik 75%;
persentase obat yang diresepkan dengan nama generik 8,13% dan persentase obat yang diresepkan sesuai
dengan Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) adalah 32,9%. Dengan demikian dapat disimpulkan pola
peresepan obat anak usia 2–5 tahun di Kota Bandung pada tahun 2012 adalah jumlah item obat rata-rata
yang diresepkan masih tinggi jika dibandingkan dengan standar WHO dan KONAS; peresepan injeksi
di apotek tidak ada; persentase pasien yang menerima antibiotik jauh lebih tinggi dengan data WHO
untuk penggunaan antibiotik di negara berkembang; peresepan obat generik lebih rendah daripada data
WHO; dan peresepan obat yang sesuai dengan DOEN masih lebih rendah daripada data KONAS.
Kata kunci: Indikator peresepan, pediatrik, penggunaan obat rasional

Published: 2018-04-03